Ketua KNPI Aceh: Mereka Salah Paham

Ketua KNPI Aceh, Jamaluddin M. Jamil, ST (mantel merah muda) beserla pengurus lainnya berjalan kaki
saat meninjau lokasi longsor di daerah Gunong Paro menuju Geureutee
Ketua KNPI Aceh, Jamaluddin M. Jamil (mantel merah muda), didampingi Sekretaris, Nurchalis, SP (Jaket Hitam)
sertata pengurus lainnya berfoto dengan latar batu di badan jalan KM 64 Geuruetee akibat longsor
Ketua KNPI Aceh, Jamaluddin M. Jamil, ST (mantel merah muda) didampingi Wakil Sekretaris, Ammar Fuad, SE, MM, saat meninjau batu yang jatuh ke badan jalan akibat longsor di KM 64 Geuruetee

KNPIACEH.org | Pernyataan Ketua KNPI Aceh, Jamaluddin ST, di harian Serambi Indonesia edisi Selasa (4/11) tentang bencana longsor di Gunung Paro dan Geurutee yang menurutnya terlalu dibesar-besarkan ternyata dipahami berbeda oleh beberapa pihak, terutama pihak Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Aceh-Sumatera Utara dan Ketua DPRA.

“Kesan yang mereka tangkap seakan-akan Ketua KNPI Aceh tidak peka akan korban bencana. Padahal yang kami maksudkan bukan demikian, melainkan pada kesiapan dan kesiagapan aparatur dalam mengantisipasi bencana alam,” kata Jamaluddin.

Jamaluddin juga menjelaskan beberapa hal untuk meluruskan permasalahan itu. Pertama, wilayah pegunungan Paro dan Geurutee diakui sebagai daerah langganan bencana longsor, tetapi dinas teknis selalu tidak sigap ketika terjadi longsor atau bebatuan jatuh ke jalan.

“Akibatnya, terjadi antrian kendaraan panjang dan berjam-jam di daerah itu, sambil menunggu alat berat didatangkan dari Banda Aceh. Dinas teknis lamban dan tidak antisipatif, seharusnya mereka menyiagakan alat berat tidak jauh dari lokasi yang rawan longsor,” terang Jamal yang juga Ketua Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) wilayah Aceh.

“Akibat dinas teknis yang lamban, maka menjadilah persoalan itu membesar, dan pengguna jalan pun panik. Padahal kalau mereka sigap, dalam satu jam bongkahan batu dapat digeser dan arus lalu lintas pun lancar. Kalau pohon yang tumbang tak terlalu besar, dapat saja mereka menyiagakan shinshaw dan tak perlu mencari berbagai alasan,” sambung dia.

“Tapi kalau merehab jalan itu memang butuh waktu agak lama. Untuk menghindari permasalahan susulan yang sama, ada baiknya dinas terkait melakukan pelebaran ruas jalan di Gunung Paro dan Geurutee. Aneh rasanya melihat jalan nasional sangat sempit,” katanya.

Jamaluddin yang pada Senin siang meninjau ke Gunung Paro dan Geurutee juga menyebutkan, Pemerintah Aceh memiliki banyak alat berat. Alat berat ini harus diprioritaskan untuk kepentingan umum. Jangan didahulukan untuk kepentingan bisnis demi alasan mengejar PAD. “Disewakan boleh saja, tapi harus dipastikan ada beberapa unit yang lokasinya tak boleh jauh dari lokasi lokasi rawan bencana,” katanya.

“Tidak hanya itu, kami dari KNPI berharap Pemerintah Aceh untuk mendata semua alat berat di Aceh, termasuk alat berat hibah NGO dan BRR pada era rehab-rekon. Masyarakat perlu mengetahui keberadaan alat berat ini sebagai aset negara. Sebab, ada sinyalemen, alat berat hibah masa RR tidak diketahui lagi keberadaannya,” kata Jamal.

Jamaluddin juga meminta Pemerintah Pusat untuk membuka khusus Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional di Aceh, sehingga tidak lagi menginduk ke Medan. “Ruas jalan nasional di Aceh kan sangat banyak, dan sebagian rawan bencana. Kalau Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional berkantor di Aceh tentu pembangunan dan perawatan jalan di Aceh akan tertangani dengan baik. Janganlah Aceh berkiblat ke Medan dalam semua urusan, malu kita,” tegas Jamal.

“Ingat tragedi tengelamnya kapal Gurita pada malam Jumat, 19 Januari 1996 lalu. menyebabkan banyaknya penumpang yg meninggal dunia. Ini disebabkan saat itu belum adanya SAR laut di Aceh. Maka untuk itu kita berharap pemerintah pusat melalui Kemetrian Pekerjaan Umum untuk segera mungkin membuka Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional di Aceh. Jangan sampai masyarakat Aceh tertibun di rerutuhan tanah/ batu di daerah yang rawan bencana,” harap Jamal.

Kronologis Perjalanan KNPI Menelusiri Geureutee


Menurut Jamaluddin, rombongan KNPI Aceh hendak berangkat ke Nagan Raya untuk menghadiri undangan panitia sepeda santai yang dilaksanakan oleh DPD II KNPI Kab Nagan Raya namun mereka gagal berangkat pada malam harinya karena ada informasi jalan putus.

Kemudian besok paginya minggu, (2/11) jam 10 Jamaluddin dengan keluarga beserta kedua anak saya (Dina 5 thn dan Aska 1,5 Thn) berangkat menuju ke arah Leupung dari Banda Aceh keinginannya untuk melihat jalan yang putus tersebut, namun saat lewat Lhonga hujan semakin deras disertai angin dan di jalanan sudah mulai ada pepohonan yang tumbang serta tanah yang berjatuhan, karena Jamaluddin membawa serta anak kecil terakhir hasrat untuk melihat jalan yang terputus gagal dan siangnya mereka bersama rombongan kembali ke Banda Aceh.

Sampai di Banda Aceh, Jamaluddin mendapat kabar mengenai bencana di daerah Lhong, Leupung dan sampai ke Aceh Jaya bahkan juga daerah lain di wilayah pantai barat selatan. Esoknya hari senin (3/11) pagi hari Jamaluddin mendapat informasi bahwa pemerintah Aceh ingin mengantarkan bantuan sembako dan kebutuhan lain untuk masyarakat tapi katanya tidak bisa tembus karena jalan putus.

"Mendapatkan info seperti itu saya mengajak pengurus KNPI Aceh untuk melihat kondisi yang sebenarnya. Tepat pukul 14.20 kami berangkat dari kantor KNPI Aceh. Sesampai di Lhokseudu kedua mobil kami berhenti karena harus minta izin ke pihak keamanan kalau mau melintasi, kemudian kami mendapat info bahwa kalau tidak begitu mendesak keperluannya kendaraan roda empat tidak diizinkan naik dulu mengingat ada pekerjaan perbaikan jalan longsor."

Lebih kurang satu jam rombongan KNPI Aceh berada di Lhokseudu kemudian Jamaluddin minta izin untuk naik ke Gunung Paro, saat rombongan tiba di gunung paro ada beberapa exsafator dan doser sedang menangani perbaikan jalan dan mengeserkan tanah yang tertimbun badan jalan, Jamaluddin dan rombongan melihat titik ini adalah salah satu penyebab tidak tembusnya kendaraan untuk menuju ke Gunung Geureutee. Lebih kurang 30 menit rombongan menunggu sampai pembersihan dan jalan dibuka untuk bisa dilewati mobil yang mereka kendarai.

Rombongan KNPI Aceh Tiba di Geureutee lebih kurang pukul 18.10 WIB tepatnya di km 64, mereka melihat ada batu besar jatuh menutupi badan jalan, menurut pantauan Jamaluddin yang bisa melintas hanyalah kendaraan roda dua. Batu besar tadi dalam amatan mereka jika ada dua unit exafator bisa digeser.

Dalam perjalanan kembali ke Banda Aceh, Jamaluddin mengatakan "Setelah kami lewati dalam pandangan kami bahwa mobilisasi sembako ke masyarakat yang terkena musibah banjir, tanah longsor dan sebagainya sudah bisa dilewati saat dalam perjalanan pulang tersebut kami hubungi awak media dan menyampaikan tentang apa yang kami lihat.

Sementara tujuan kami ke Gunong Paro dan Geureutee untuk memastikan kenapa tidak tembus kendaraan untuk distribusi bantuan dan ternyata saat tersebut memang kendaraan roda empat sudah bisa melintasi sampai ke Geureutee kami sampaikan ke awak media sebagaimana yang kami lihat bahwa tidak seperti yang kita bayangkan, artinya untuk mobil yang membawa bantuan sudah bisa lewat." kata Jamaluddin.

Dalam perjalanaan, tepatnya di kawasan Lhokseudu Jamaluddin menyampaikan apa yang mereka lihat kepada Kepala SKPA yang menangani hal sosial bahwa "sudah bisa lewat pak sampai ke Geureutee”.

“Itu informasi perjalanan KNPI Aceh dalam mencari jejak kenapa bantuan tidak bisa di distribusikan." ujar Jamal.

Menanggapi kecaman serta kekecewaan sejumlah pihak atas peryataannya di Serambi (4/11), menurut Jamaluddin "Mereka hanya salah menafsikan saja".

"Saya Jamaluddin M. Jamil, ST, selaku hamba Allah tentu juga ada khilaf dan salah jika itu ada, secara pribadi dan selaku ketua DPD I KNPI Aceh memohon maaf dan terimakasih kepada seluruh pemuda Aceh yang sudah membantu dengan ihklas para saudara kita yang sedang dilanda musibah serta kita doakan semoga musibah ini cepat teratasi”.

Terimaksih kami kepada semua pihak yang sudah bahu-membahu mengurangi penderitaan masyarakat korban bencana jajaran SKPA Pemerintah Aceh, TNI, POLRI, awak media serta pihak-pihak lainya." pungkas Jamaluddin. [Yusri Razali]
Share on Google Plus

About KNPI ACEH

Dikelola oleh Staf Sekretariat DPD KNPI Aceh | Alamat : Jl. T Hasan Dek No.166 Jambo Tape Banda Aceh | Email : dpdknpiaceh@gmail.com

0 komentar:

Posting Komentar