"GAM Berdasi" Dari Peureulak


KNPIACEH.org | 30 SEPTEMBER 2014, Iskandar Usman resmi dilantik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) untuk periode 2014 – 2019. Hari itu dia disumpah bersama 80 anggota DPR lainnya untuk menjalankan amanah, bekerja untuk rakyat dan Aceh.

Dia melanggeng ke gedung parlemen setelah mendapatkan 17 ribu suara lebih pada Pemilu Legislatif April 2014 lalu. Iskandar mencalon diri dari Partai Aceh, sebuah partai lokal yang didirikan oleh para mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Ini kali pertama lelaki kelahiran 1981, Aceh Timur ini ikut pencalekan. Tapi luar biasa, masyarakat Aceh Timur, dapil tempat ia mencalonkan diri memberi kepercayaan besar.

Padahal pada Pemilu 2009 nama Iskandar juga dimasukkan dalam daftar bakal caleg dari Partai Aceh.

“Tapi saat hendak didaftarkan ke KIP, saya mengundurkan diri, saya berpikir biarkan kawan-kawan maju duluan,” cerita Iskandar dalam wawancara dengan AJNN, Jumat, 10 Oktober 2014 di Banda Aceh.

Saat itu, Iskandar merasa belum cukup layak menjadi wakil rakyat. Masih banyak yang diharus dipejari, pengembangan diri hingga investasi sosial. Waktu lima tahun ke depan dimanfaatkan untuk melakukan persiapan lebih matang.

Memutuskan mundur dari pencalekan, Iskandar kembali menikmati dunia jurnalistik, dia bekerja di Harian Serambi Indonesia, sebuah koran lokal terbesar di Aceh. Dia termasuk salah satu wartawan berani di Aceh Timur. Bukan hanya berani tapi juga kritis.

“Saya masuk ke pelosok kampung, bertemu dengan masyarakat mendengar dan melihat realita yang sebenarnya. Kemudian saya perjuangkan suara hati mereka melalui tulisan, saya bahagia bisa berbuat sesuatu untuk mereka,” cerita Iskandar.
Cerita Iskandar, biasanya warga menyampaikan masalah-masalah yang dihadapi seperti jembatan rusak, jalan berkubangan hingga pelayanan pukesmas yang amburadul. Setelah mencatat semua keluhan dan harapan masyarakat, Iskandar menyampaikan kepada pemerintah.

Selama menjadi jurnalis ada satu peristiwa yang tak pernah dilupakan. Tulisannya mampu mengeluarkan narapidana dari penjara. Kisahnya seorang perempuan di penjara karena kasus pemukulan. Boleh dibilang hanya kasus ringan. Perempuan itu akhirnya dinyatakan bersalah, dia dijebloskan ke penjara, kebetulan ia punya bayi. Akhirnya perempuan itu ikut membawa bayi ke penjara, tinggal bersama di balik jeruji.

Suatau hari Iskandar meliput di LP, tanpa sengaja dia melihat perempuan sedang mengayun bayi di balik jeruji, hatinya bertanya-tanya dan tersentuh. Sungguh tidak pantas anak sekecil itu berada di penjara, harus menanggung hukuman bersama ibunya.

Batin Iskandar memberontak. Ia harus melakukan sesuatu. Iskandar mengangkat kisah perempuan itu ke media tempat ia bekerja. Tanpa sadar, ternyata tulisannya sampai ke Mahkamah Agung.

“MA memerintahkan Pengadilan Negeri Idi untuk membebaskan ibu itu, saya sangat terharu,” kisahnya.

Karena peristiwa itu, banyak orang menyampaikan dukungan dan terima kasih. Iskandar semakin dikenal dan dekat dengan masyarakat.

Tahun 2014 musim politik tiba lagi. Banyak orang mendorong Iskandar untuk maju. Dia sendiri juga merasa sudah siap. Inilah momentum yang tepat. Tanpa mengeluarkan banyak uang, Iskandar terpilih. Modalitas sosial, keikhlasan telah meringankan langkahnya menapaki gedung parlemen.

Harta berharga dari sang Ayah


Beruntung bagi Iskandar, dia terlahir dari keluarga berpendidikan. Ayah seorang guru, sehingga dorongan dari orang tua menjadi motivasi bagi Iskandar dalam menempuh pendidikan.

Sejak sekolah dasar hingga sarjana dia belajar di lembaga pendidikan Islam, mulai dari MIN, MTsN, MAN dan IAIN. Dia pandai ilmu agama. Setiap ikut cerdas cermat dan lomba pidato dia pasti bawa pulang piala. Saat usia remaja dia kerap diundang menjadi penceramah diacara peringatan hari besar Islam. Iskandar memang sangat vocal.

“Abi tidak meninggalkan harta buat kalian, semua tanah sudah terjual untuk menyekolahkan kalian sampai sarjana. Ilmu yang kalian dapatkan lebih berharga dari tanah-tanah itu,” kata Iskandar, mengulang perkataan ayahnya suatu hari. Mereka memanggil ayah dengan sebutan Abi.

Sebenarnya Abi menginginkan dia menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), alasannya sederhana menjadi pegawai lebih menjamin masa depan, karena punya gaji tetap. Namun Abi juga tak memaksa, Iskandar boleh menentukan jalan hidup sendiri selama itu dalam kebaikan.

Tahun 1999, Iskandar muda masih berseragan putih abu-abu. Dia sekolah di sebuah pesantren modern di Langsa. Saat itu Aceh sedang bergejolak, tuntutan refendum berdengung seantero Aceh. Masyarakat turun ke jalan, tembok-tembok dituliskan kata REFERENDUM. Mahasiswa dan aktivis di Banda Aceh melakukan aksi tutut refendum. Di daerah-daerah para pelajar tak tinggal diam, semangat dan kesadaran pengabdian untuk tanah lahir membuat mereka bergerak.

Puncaknya pada 8 November 1999, ribuan rakyat Aceh berkumpul di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Mereka datang dari berbagai pelosok kampong, menumpang truk, bus dan mengibarkan bendera referendum. Iskandar termasuk salah satu di dalamnya.

“Saya berangkat bersama kawan-kawan, sekitar delapan orang, tanpa sepengetahuan Umi,” katanya mengenang masa lalu. Umi sebutan untuk ketua pesantren.

Iskandar menjadi salah satu saksi hidup, bagaimana keinginan rakyat Aceh begitu kuat untuk merdeka kala itu. Keterlibatan dalam aksi itu membuat semangat berjuang semakin besar. Dengan usia baru 18 tahun Iskandar sudah punya kesadaran pengabdian untuk Aceh. Ini juga dialami oleh pelajar Aceh se usianya masa
 itu.

Karena pergi tak minta izin, dia mengira mereka akan dihukum. Dia sudah pasrah. Tapi apa yang terjadi? Mereka disambut bak pahlawan baru pulang dari medan perang. Seisi pesantren mengelu-elukan nama mereka, delapan pemuda tanggung itu bahkan digelari GAM berdasi. Sebuah gelar yang tak berlebihan. Kini dia dipanggil Abu Ih.

Seterusnya Abu Ih semakin sering tampil di mimbar, jika dulu isi pidato tentang keagamaan kini tentang perjuangan. Dia kobarkan semangat perjuangan dari mimbar ke mimbar.

“Setiap pidato saya selalu bawa buku Aceh Sepanjang Abad, saya masih ingat betul,” kisahnya sambil tertawa.

Akibat dari isi pidato tentang perjuangan, aparat hukum Indonesia menganggap sebagai sebuah pengkhiatan terhadap Negara. Abu Ih masuk dalam target, dia diburu oleh tentara. Untuk menghindari kejaran aparat, Abu Ih sempat menepi ke Bengkulu dan Jakarta.

Tahun 2000 dia masuk kuliah di IAIN Ar-Raniry (kini UIN Ar-Raniry), memilih jurusan ekonomi Islam. Kata itu Ar-Raniry adalah poros gerakan mahasiswa Aceh. Banyak aktivis-aktivis lahir dari kampus itu.

Saat kuliah dia terlibat dalam gerakan mahasiswa, baik di kampus maupun di luar kampus. Bahkan saat proses perdamaian atau Memorandum of Undestanding (MoU) dia termasuk tim yang mengantar petisi Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA) versi mahasiswa Aceh kepada perwakilan Aceh di Jakarta.

Selesai kuliah enam tahun bukan sesuatu yang buruk untuk para aktivis kala itu. Tahun 2006 dia pulang ke kampong dan menikah. Sejak saat itu dia menetap di Aceh Timur.

Harapan untuk Aceh


Sebagai putra Aceh dia memahami apa yang dibutuhkan Aceh untuk percepatan pembangunan. Terlebih untuk wilayah Aceh Timur.

“Aceh Timur adalah kawasan agraris, umumnya masyarakat di sana bergantung hidup pada pertanian, perkebunan dan perikanan, sektor ini harus menjadi fokus pembangunan,” jelasnya.

Namun kata dia, perlu pembangunan infrastruktur yang memadai untuk medukung pertumbuhan tiga sektor itu. Hasil ikan yang melimpah di Aceh Timur karena belum memiliki cold storage (tempat penyimpanan iklan) memaksa nelayan harus menjual murah saat ikan melimpah.

“Yang ambil untung kan orang Medan, mereka mengekspor ikan kita dengan harga yang lebih mahal,” tambahnya.

Begitu juga dengan pertanian ketersediaan air, irigasi dan jalur transportasi ke perkebunan harus menjadi prioritas bagi pemerintah. “Petani jangan di kasih uang, tapi beri mereka kemudahan, pelatihan dan akses,” jelasnya.

Sementara untuk Aceh, dia berpendapat turunan aturan dari UUPA tetap menjadi PR besar yang mesti terselesaikan. Dia sendiri mengakui akan berjuang dan mengajak anggota parlemen lainnya demi tuntasnya regulasi tersebut.
“Saya berani pasang badan, untuk Aceh,” tegasnya.

Perkataan itu bukan lips service. Baru beberapa hari usai dilantik, dia mengirimkan surat kepada Kapolri terkait aksi tak terpuji Polisi Sumut di batas lintas Aceh – Medan yang kerap melakukan razia dan meminta uang, korbannya pada umumnya kendaraan berplat BL.

Ini baru permulaan. Tantangan ke depan tentu lebih besar. Bila dulu dia berjuang di mimbar dan jalanan, kini saatnya melalui jalur politik. [http://www.ajnn.net/]

OLEH ZULKARNAINI MASRY


Share on Google Plus

About KNPI ACEH

Dikelola oleh Staf Sekretariat DPD KNPI Aceh | Alamat : Jl. T Hasan Dek No.166 Jambo Tape Banda Aceh | Email : dpdknpiaceh@gmail.com

0 komentar:

Posting Komentar