Oleh :
Teuku Harist Muzani
(Juara II Lomba Penulisan Artikel DPD KNPI Aceh)
Teuku Harist Muzani
(Juara II Lomba Penulisan Artikel DPD KNPI Aceh)
“Seribu orang tua hanya bisa bermimpi, sedangkan satu pemuda dapat mewujudkan mimpi-mimpi mereka,”
- Bung Karno -
Ungkapan populer yang pernah dilontarkan Bung Karno dalam
sebuah orasinya itu menggabarkan bagaimana sesungguhnya kekuatan dan potensi kaum
muda. Pemuda sebagai garda terdepan perjuangan cita cita bangsa diakui memiliki
kelebihan dibandingkan generasi pendahulu mereka (baca : generasi tua). Pemuda
memiliki karakteristik yang khas, yaitu
kekuatan dalam mewujudkan apa yang selama ini menjadi angan –angan
generasi sebelumnya.
Sejarah juga memperlihatkan kiprah pemuda yang tak
ketinggalan dalam setiap tapak penting sejarah. Pemuda tampil sebagai kekuatan
utama dalam setiap proses modernisasi dan perubahan. gerakan-gerakan pemuda di
indonesia yang pernah terjadi sejak pra kemerdekaan, orde lama, orde baru, dan
reformasi, yang mampu menumbangkan rezim raksasa seperti soekarno dan soeharto diakui
tak lepas dari kiprah perjuangan kaum muda. Karena itu tidak heran timbul
pandangan bahwa pemuda merupakan asset masa depan bangsa yang kelak
bermetamorfose menjadi penerus tombak estafet pembangunan Negara.
Namun gambaran ideal tersebut kini perlahan sirna begitu
melihat realita yang dialami pemuda saat ini. Citra pemuda, yang sejatinya
menjadi sosok tumpuan harapan bangsa,
perlahan luntur akibat ulah sebagian pemuda yang memanfaatkan masa
mudanya demi kenikmatan sesaat. Sialnya, kasus pemuda yang negatif itulah yang kerap terekspose di masyarakat.
Kisah pergaulan bebas pemuda pemudi, pesta narkoba maupun aksi perkelahian
massal menghiasi headline surat kabar.
Kisah heroik kaum muda dalam pembangunan bangsa bukan tak
ada, namun seolah tertutupi oleh berita negatif yang kemudian ditelan mentah
mentah oleh masyarakat kita. Dampaknya
sebagian masyarakat mempertanyakan peran kaum muda dalam pembangunan negara.
Celakanya, ada yang langsung mengambil kesimpulan bahwa pemuda yang sejatinya
sebagai tulang punggung negara ini sebagian besar tak lagi bisa dijadikan
tumpuan harapan bagi pembangunan Indonesia di usianya yang ke 69 ini.
Disinilah kita perlu bersama melihat problematika
kepemudaan ini secara lebih jernih. tidak cukup melihat persoalan pemuda hanya
dengan kacamata kuda. dibutuhkan wawasan luas dan analisis mendalam dalam
rangka memetakan persoalan terkait hal ini. sehingga kita tidak terjebak dalam
menggeneralisasi persoalan hingga berakibat keliru dalam mengambil sebuah kesimpulan.
Tulisan ini akan mengklasifikasikan tipe pemuda dalam
konteks kekinian, terutama konteks Aceh, dimana peran pemuda Aceh yang belum
tergarap secara optimal diharapkan mampu di optimalisasi setelah sebelumnya
dilakukan pemetaan secara komprehensif. penulis juga mengajak semua pihak untuk
bersama mendorong partisipasi dan keterlibatan aktif pemuda melalui beragam
pendekatan strategis. Peran strategis pemuda dalam pembangunan Aceh ialah
dengan mendorong pemuda untuk terlibat aktif dalam peran ganda, sebagai mitra
strategis Pemerintah Aceh sekaligus sebagai oposisi dalam rangka memberikan
kritik konstruktif bagi pembangunan Aceh berkelanjutan.
KLASIFIKASI PEMUDA ACEH
Setelah melakukan penelusuran dilapangan, Penulis
menemukan sedikitnya 3 tipe Pemuda Aceh yang dapat dikategorikan. Kategori
pemuda Aceh yang telah diklasifikasikan inilah yang paling dominan dalam
konstruksi kepemudaan Aceh saat ini.
Pertama, Pemuda Wifi (Warung Kopi &
Wifi). Golongan ini yang paling banyak
mendapat sorotan di masyarakat. Hobinya nongkrong
24 jam di warung kopi sembari berselancar di dunia maya dinilai tidak produktif
dan hanya membuang waktu. Aktivitas yang dilakukan di dunia maya mulai dari
berinteraksi di jejaring sosial hingga bermain game yang mengandung muatan
taruhan telah membuat gerah masyarakat dan pemerintah setempat. Pemuda jenis
ini juga hobi eksis di dunia maya dengan meng upload foto foto narsisnya. Istilah kerennya selfie alias foto
diri. Tidak mau tahu dengan problematika sosial, karena hidup dalam dunianya sendiri.
Kedua, Pemuda Proposal /Agen rahasia.
Sedikit lebih baik dari golongan pertama. Golongan ini mulai memikirkan problem
yang terdapat dalam masyarakat. Tipe ini kerap tidak lupa memantau isu isu yang
sedang hangat di masyarakat. Namun sayangnya isu tersebut kerap dimanfaatkan
untuk kepentingan pragmatis. Isu tersebut dibungkus dengan rapi dalam sebuah
proposal yang ditujukan kepada pihak tertentu. Tak jarang aksi mereka juga
ditempuh dengan penggalangan dana dari masyarakat. Ataupun menggerakan demonstrasi atas order
pihak tertentu. Misi pemuda yang luhur seolah kabur, karena Pemuda tipe ini
telah menjelma menjadi agen rahasia pihak tertentu demi kepentingan jangka
pendek.
Ketiga, Pemuda MASA KINI. Pemuda dalam
golongan terakhir inilah yang menjadi harapan dari masyarakat. Pemuda tipe ini ini memiliki karasteristik
MASA KINI, akronim dari Mandiri, Santun, Kritis, Inovatif, Netral dan
Inspirator. mandiri berdiri diatas kaki sendiri. Santun dalam berbuat. Kritis
dalam pernyataan. Mampu menghasilkan karya inovatif bagi kemajuan daerah dan
bangsa. Netral dan independen, tidak berafiliasi dengan kepentingan tertentu
selain hanya mengabdi kepada kepentingan rakyat. Atas sikapnya pemuda ini mampu
menjadi inspirator bagi orang lain. Aktif dan kerap terlibat dalam persoalan
sosial masyarakat. Turut mempengaruhi kebijakan pemerintah dengan bergabung
dalam organisasi kemasyarakatan dalam rangka mengasah kepekaan terhadap
problematika sosial.
PERAN STRATEGIS PEMUDA DALAM
PEMBANGUNAN ACEH
Untuk optimalisasikan peran pemuda dalam konteks
pembangunan Aceh, pemuda MASA KINI harus mengambil peran ganda, yakni Sebagai
mitra sekaligus sebagai oposisi pemerintah.
Sebagai mitra
Strategis pemerintah dalam pembangunan Aceh, Pemuda harus mampu menjadi
katalisator pembangunan Aceh melalui pemikiran visioner dan gerak langkah yang
dinamis. Mendorong pembangunan Aceh melalui gagasan progresif, inovatif, dan kreatif. produktifitas pemuda dalam
mengembangkan gagasan tersebut harus terwadahi secara maksimal oleh Pemerintah
Aceh.
Pemerintah Aceh harus mendorong partisipasi Pemuda dalam perumusan kebijakan publik, menjamin transparansi dan akuntabilitas publik, serta memberikan kemudahan akses informasi publik kepada pemuda.
Pemerintah Aceh harus mendorong partisipasi Pemuda dalam perumusan kebijakan publik, menjamin transparansi dan akuntabilitas publik, serta memberikan kemudahan akses informasi publik kepada pemuda.
Sebagai oposisi Pemerintah dalam pembangunan Aceh, Pemuda harus mampu menjadi
mitra kritis pemerintah dalam pembangunan Aceh dengan menjadi evaluator atas
setiap kebijakan Pemerintah Aceh. Mendorong tata kelola Pemerintahan baik (Good Governance) di Aceh dengan turut
mengambil peran dalam pengawasan pembangunan Aceh di segala lini,dengan
Melaporkan kepada yang berwenang setiap penyimpangan dan penyalahgunaan
kewenangan yang terjadi di lapangan oleh
oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Langkah yang dapat dilakukan diantaranya dengan membangun
semacam website yang memonitoring janji pemerintah dan setiap kebijakan
strategis yang dijalankan. Pembentukan opini publik melalui media cetak/eletronik,
sosial media. Audensi, Dengar Pendapat, dan Dialog merupakan alternatif yang
bisa dipilih pemuda dalam menyampaikan hasil evaluasi pembangunan.
Melalui beragam pendekatan strategis yang ditempuh, Insya
Allah, peran pemuda sebagai tulang punggung pembangunan Aceh masa depan akan
semakin terasa fungsi keberadaanya. Kedepan
diharapkan pemuda yang sebelumnya berada di kuadran pemuda wifi & pemuda
proposal /agen rahasia, harus bertrasformasi menjadi Pemuda MASA KINI. Pemuda
yang mampu memegang peranan penting terhadap pembangunan Aceh dan Indonesia di
Masa depan. Insya Allah! []

0 komentar:
Posting Komentar