![]() |
| T. M.JafarKetua Forum Islam Rahmatan Lil ‘alamin (FIRL) Aceh
(Juara III Lomba Penulisan Artikel DPD KNPI Aceh)
|
Dunia adalah sebuah entitas
yang ditandai dengan berbagai perubahan-perubahan, namun tidak ada perubahan
dalam arus besar dunia itu yang tidak digerakkan oleh politik pemuda. Dalam
sejarah bangsa manapun, mencatat bahwa pemuda mengambil tempat maha penting dalam
perubahan tersebut. Indonesia mengenal Sumpah Pemuda, kita juga tahu bagaimana
seorang pemuda bernama Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Bung Karno dan Hatta
menggerakkan segala sumberdaya memerdekakan Indonesia. Kita juga mengenal Teuku
Nyak Arif, putra Aceh yang dengan gagah merasionalkan dihadapan orang banyak
bahwa kita semua harus bersatu untuk Indonesia yang satu, bukan berpecah belah.
Siapa tidak kenal Hasan Tiro, seorang pemuda energik penuh wibawa pada masanya,
yang berjuang dengan kecerdasan melebihi kecepatan AK 47, sehingga berhasil
melahirkan “ide” “martabat Aceh” sebagai entitas penjaga marwah dan
kesejahteraan. Semua mendengar, membaca dan merekam bahwa pemuda adalah roda
gerak sejarah, dulu, kini dan akan datang.
Pemuda dan Martabat Aceh
Aceh adalah dinamika dan
dialektika yang tidak pernah usai. Heroisme dan kecintaan pada Bangsa bernama
Indonesia adalah matahari dan udara dalam cerita panjang Aceh. Aceh Mengalir
dalam darah, terhirup dan keluar dari nafas-nafas peradaban dari masa kemasa
dalam berbagai riak, gelombang dan kemelut, sunyi, senyap dan tentram
menenangkan di hembusan angin perubahan. Banyak yang telah berubah dari Aceh,
perjalanan panjang dari konflik menuju damai, dan hantaman maha dahsyat tsunami
telah membawa Aceh dalam tranformasi baru, transformasi menuju perubahan
kedepan, bukan tranformasi mundur kebelakang. Dalam berbagai kisah panjang
perjalanan tersebut, pemuda adalah bagian yang punya cerita sendiri yang sangat
menentukan kemudi perahu besar bernama Aceh, guna menuju lautan lepas, lautan
tanpa batas untuk kesejahteraan dan kemakmuran.
Pemuda Aceh hadir dan
mengambil peran dalam berbagai dinamikan dan dialektika Aceh. dan gerak energi
pemuda selalu berperan dalam berbagai alur tersebut. kita tidak membicarakan
bahwa kita mengungkit-ngungkit lagi masa lalu ketika kita ingin membangun masa
depan. Tidak, ini adalah cerita tentang kiprah pemuda Aceh yang tak akan lekang
tercatat sejarah. Pemuda Aceh memperjuangkan dua kata paling menghentak dan
paling mengharukan dalam sejarah Aceh yaitu “martabat” dan “kebebasan”. Ketika
martabat Aceh berada di titik nadir, pemuda Aceh melalui berbagai gerakannya
mengangkat kembali martabat Aceh kemenara puncak peradaban yang ingin di bangun
Aceh.
Ketika kebebasan adalah adalah
sesuatu yang sangat sulit didapat di Aceh, pemuda Aceh tampil sebagai martir
yang berani meledakkan benteng penghalang kebebasan. Ketika Aceh berada dalam
ketidak bebeasan akibat ketakutan, pemuda Aceh tampil dengan sangat berani
menyemangati dan memberikan penyadaran kepada rakyat melalui berbagai
pendidikan politik akar rumput yang dilakukan dengan menyuarakan bahwa
“kebebasan” dan merdeka dari berbagai ketakutan adalah hak asasi manusia yang
paling esensi dari keberadaaan manusia. Sejarah Aceh mencatat lahirnya tokoh-tokoh
pemuda dalam berbagai gerakan politik yang mereka lakukan dengan satu tujuan
“pembebasan” untuk kehidupan yang “adil” dan
“bermartabat” bagi Aceh, dari gerakan politik yang dilakukan pemuda ini
lahir berbagai wadah gerakan politik pemuda seperti SMUR, FARMIDIA, KARMA,
Pemraka, SIRA, Wakampas, SMIPA dan lain sebagainya.
Pemuda dan Pembangunan Aceh
Matahari damai telah terbit
di Aceh, namun gerakan politik pemuda tetap terus berkesinambungan, sekalipun
dalam garis yang kadang terputus-putus, ketika dulu pemuda/I Aceh melakukan
gerakan politik dalam desingan peluru, maka paska damai, sekalipun sesekali
berada dalam aroma ketegangan, namun kondisi damai membuat pemuda lebih leluasa
bergerak dalam melakukan pilihan alur gerakan politiknya untuk mengawal,
mengisi dan berkontribusi membangun Aceh untuk keberlanjutan perdamaian.
Mou Helsinki, 15 Agustus
2005 adalah anugerah tak berbanding bagi Aceh. menjaga damai berlanjut dan
mengisi perdamaian dengan pembangunan yang berkesejahteraan adalah ruh semesta
Aceh saat ini dan sekali lagi pemuda mengambil peran penting mewujudkan
keniscayaan ini.
Sejatinya, pembangunan
adalah untuk pembebasan, dan demokrasi adalah untuk kesejahteraan. Seperti
disebutkan oleh Amartya Sen (Pemenang hadiah Nobel Ekonomi 1998), dalam
risalahnya Beyond the Crisis : the
Development Strategies in Asia, yang diterbitkan oleh Institute of South
East Asian Studies, 1999 yang kemudian diterjemahkan menjadi Demokrasi bisa memberantas Kemiskinan (Mizan
, 2000), sen berbicara tentang pentingnya kebebasan. Sen menunjukkan betapa
pentingnya kebebasan dan hak politik masyarakat. Keduanya dapat mencegah
terjadinya petaka politik dan ekonomi yang lebih buruk. Karena itu pembangunan
harus dilihat sebagai sebuah proses peningkatan berbagai jenis kebebasan
manusia yang secara intrinsic penting bagi dirinya. Kebebasan membutuhkan
beragam lembaga yang baik. Dalam konteks ini, kebebasan harus dilihat sebagai
tujuan akhir sekaligus instrument dari pembangunan. Pembangunan sebagai
pembebasan dalam pengertia Sen diatas adalah seharusnya dengan pembanguna bisa
membebaskan rakyat dari kemiskinan dan bisa memberikan kesejahteraan.
Tugas dan peran pemuda Aceh
melalui berbagai gerakan politiknya dalam masa damai ini adalah memastikan
bahwa pembangunan yang dilakukan pemerintah Aceh paska damai adalah benar-benar
untuk kesejahteraan. Saya melihat bahwa
hanya gerakan politik pemuda yang bisa melakukan ini, karena kita semua sepakat
berdiri di satu titik berangkat bahwa, apapun kondisinya , bagaimanapun situasinya
“pemuda adalah pelanjut estafet
kepemimpinan dan pelanjut peradaban Aceh”.
Dan selama ini, paska damai
Aceh, pemuda Aceh telah membuktikan ini, mereka telah menempatkan diri dalam “kesadaran kelasnya” sendiri menentuka
arah pilihan gerakan politiknya untuk memastikan pembangunan untuk
kesejahteraan terwujud. Pemuda telah menghimpun diri kedalam berbagai elemen,
tempat mereka bisa berperan dalam mengisi pembanguna Aceh, diantaranya :
1. Para pemuda yang telah mengambil
peran melakukan kontrol dan pengawasan para pemimpin Aceh, melalui partai
politik, beberapa diantaranya telah terpilih sebagai anggota parlemen di
provinsi, kabupaten kota di Aceh.
2. Pemuda yang mengambil peran
dalam Organisasi Masyarakat Sipil, yang selalu melakukan koreksi dan memberikan
masukan dalam taraf kehidupan demokratisasi yang lebih baik.
3. Perkumpulan
paguyuban-paguyuban, yang merupakan kekuatan utama para pemuda daerah
masing-masing dalam mengawal pembangunan
Aceh untuk kesejahteraan.
4. Mahasiswa, dengan berbagai
kesadaran kritisnya adalah sebuah bentuk gerakan pemuda idealis paling penting
dalam memberikan kontribusinya mengawal pembangunan Aceh.
Pemuda- Pemudi Sebagai Centre of Excellence
Aceh
Melihat gerak dan peran
pemuda seperti tergambar diatas, maka terlihat betapa urgen dan maha penting
peran politik pemuda dalam menata masa depan Aceh. sehingga kita dapat
menyimpulkan bahwa masa depan Aceh sejatinya ada pada “ide”, “ruang gerak” dan “kreatifitas” pemuda Aceh. namun yang
harus dilakukan saat ini adalah bagaimana menghimpun dan menyatukan potensi
maha dahsyat pemuda yang tersebar dimana-mana tersebut kedalam sebuah “pusat unggulan” (Centre of Excellence)
Aceh, pusat unggulan ini ibarat “pencerah” bagi masa depan Aceh dan KNPI Provinsi
Aceh sebagai sebuah wadah pemuda adalah posisi yang sangat tepat dan penting untuk
mewujudkan Centre of Excellence Aceh
ini.
Pemuda –pemudi Aceh dari
berbagai elemen apakah dari partai politik (politisi), mahasiswa, akademisi,
pelajar, seniman, budayawan, birokrat muda, professional muda, pengusaha muda,
aktifis dari berbagai daerah di Aceh yang cerdas, ulet, pekerja keras bisa
disatukan kedalam sebuah “pusat
keunggulan” ini, mereka nantinya akan menggodok dan melahirkan berbagai
gerakan politik dan kebudayaan di Aceh sehingga bisa melahirkan duplikasi dan standarisasi yang sama dalam gerakannya diseluruh Aceh sehingga
cita-cita bahwa pembangunan adalah untuk kesejahteraan terwujud di Aceh. Abadilah
pemuda-pemudi Aceh !.

0 komentar:
Posting Komentar