KNPIACEH.org | Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh meminta kepada
pemerintah Aceh agar melakukan berbagai program untuk mencari solusi agar dapat
mengurangi angka kemiskinan di Aceh.
Hal ini dikemukakan oleh Ketua KNPI Aceh, Jamaluddin, ST ketika
diwawancarai Atjehpost.co via telepon seluler, Banda Aceh, Kamis, 25 September
2014.
"Secara lembaga, KNPI berharap kepada semua stakeholder
beserta pemimpin SKPA maupun staffnya di Aceh janganlah sekali-kali melibatkan
diri dalam urusan paket yang dikontrakkan pada pihak ketiga, biarlah pihak
swasta yang mengerjakannya," ujar Ketua KNPI Aceh, Jamaluddin, ST.
Menurutnya, tingginya jumlah angka kemiskinan di Aceh yang
mencapai 881 ribu jiwa ini disebabkan karena minimnya perhatian pihak instansi
di Aceh dalam menetralisir para pekerjaan di bidang jasa dari luar daerah serta
seringkali melibatkan anggota kerabatnya sendiri dalam menangani berbagai macam
jasa pelayanan publik di Aceh.
Jamal menambahkan, perputaran uang di Aceh saat ini dominannya
hanya bisa dinikmati oleh segelintir oknum pejabat tertentu beserta kerabatnya
sendiri. Hal ini akan membatasi ruang gerak bagi para pekerja swasta untuk
memanfaatkan potensi yang ada.
"Kami terus berharap
kepada pegawai di Aceh yang sudah menjadi PNS janganlah memikirkan proyek
sendiri karena Anda-Anda ini sudah menjadi abdi negara, biarkanlah ini dilakukan
oleh pekerja swasta. Jika hal ini terus dibiarkan terjadi, maka jangan harap
rakyat Aceh ini akan terbesar dari belenggu kemiskinan, meskipun puluhan
Tirilun uang yang gelontorkan ke Aceh tetap tidak akan berdampak positif
terhadap penurunan jumlah angka kemiskinan di Aceh," ujar Jamaluddin.
Selain itu, Jamal juga menuturkan, tingginya jumlah lulusan di
perguruan tinggi tidak sebanding dengan penyediaan lapangan kerja sehingga
munculnya tingkat pengangguran yang tinggi di Aceh. Pasalnya, jika kedua masalah
tersebut tidak segera diatasi maka dikhawatirkan kondisi itu akan terus
memperluas ruang kesenjangan sosial di Aceh serta dapat memicu beragam aksi
kriminalitas serta konflik horizontal lainnya.
"Ini seharusnya yang
menjadi problema di tengah kehidupan kita. Apalagi saat ini lebih dari 15 ribu
lulusan perguruan tinggi di Aceh belum memiliki pekerjaan tetap, belum lagi
dengan remaja yang putus sekolah serta rema yang masih sepenuhnya
menggantungkan diri pada orang tuanya. Jika hal ini terus dibiarkan, maka ke
depannya nanti akan melahirkan generasi-generasi yang merusak bangsa, bukan
membangun. Buktinya saja jika kita kunjungi ke sejumlah LP di Aceh banyak
didominasi oleh para pengguna narkoba," ujarnya lagi. [http://atjehpost.co/]

0 komentar:
Posting Komentar