KNPIACEH.org | Alokasi dana
Otonomis Khusus (Otsus) Aceh dihabiskan untuk program-program mercusuar yang
hari ini menjadi serba dilematis. Untuk tahun 2014, dana yang teralokasi untuk
program beasiswa anak yatim mencapai 200 miliar. Untuk beasiswa S-1- S3
Rp108 miliar. JKRA 402 miliar. BKPG 323 miliar. Serta reintegrasi 80 miliar.
Demikian
pernyataan Kepala Bappeda Aceh, Prof. DR. Ir. Abubakar Karim, Selasa
(16/9/2014) pada diskusi publik yang diselenggarakan oleh Komite Nasional
Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh di kantor kepemudaan propinsi setempat. Tema yang
diangkat adalah: Peran pemerintah Aceh Dalam Mengoptimalkan Dana Otsus bagi
Kesejahteraan Rakyat Aceh.
Menurut Prof.
Abu (demikian dia sering disapa-red) program mercusuar tersebut diatas menyerap
anggaran yang sangat banyak. Akan tetapi yang membuat dia heran, disamping
anggaran semakin meningkat setiap tahunnya, akan tetapi jumlah penerima manfaat
nyaris sama setiap tahun. Tidak bertambah dan berkurang. Tolak ukur berhasil
atau tidak juga kabur.
Sebut saja
soal beasiswa anak yatim. Sepanjang tahun jumlah penerimanya sama. Tidak ada
pengurangan ataupun penambahan. “Ini kan aneh. kok jumlahnya sama saja
terus-terusan,” Ujarnya heran.
Demikian juga
dengan beasiswa S1-S3. Tidak jelas tolak ukur keberhasilannya. Bahkan temuan
pihaknya, program beasiswa itu menjadi mainan para pejabat. “Bayangkan ada anak
pejabat yang tidak bisa berbahasa Inggris tapi lolos beasiswa kuliah ke luar
negeri. Jadwal magister yang seharusnya selesai dua tahun, baru bisa ditamatkan
setelah lima tahun. Karena dua tahun pertama dia habiskan waktunya untuk
belajar Bahasa Inggris itu. Ini pemborosan,” Katanya prihatin.
Dia juga
sedikit menyinggung soal beasiswa sepakbola ke Paraguay yang menyerap 46 miliar
selama dua tahun. Dia mempertanyakan dampaknya bagi Aceh apa? seharusnya,
tambah Abu Bakar, Aceh harus mendapatkan outcome yang jelas pada setiap pengeluaran
uang untuk program pembangunan.
Untuk keluar
dari itu tentu sulit sekali. Bappeda Aceh sendiri mengalami kendala yang luar
biasa dalam melakukan perencanaan yang lebih tepat. Sebab program mercusuar
yang telah ada itu sangat populer. Padahal belum tentu akan berdampak untuk
jangka panjang.
Terkait dengan
banyaknya pabrik-pabrik yang didirikan dengan dana otsus. Abubakar mengatakan,
sampai kapanpun pemerintah tidak akan pernah bisa berbisnis. Sebanyak apapun
pabrik didirikan, tetap tidak akan jalan.
Soal ekonomi
tersebut harus diserahkan ke pihak swasta (pengusaha) Tugas pemerintah adalah
menyediakan infratsruktur baik, jalan, jembatan, irigasi, pelabuhan maupun
energi serta keamanan.
Akan tetapi
hal inilah yang menjadi kendala. Sampai saat ini Aceh masih krisis listrik.
Bahkan usaha pemerintah untuk mendatangkan pengusaha ke Aceh tetap masih nihil.
Sebab persoalan energi (listrik) yang tak kunjung selesai.
Perlu
lembaga Pengawas
Aryos Nivada,
MA, Dosen Fisip Unsyiah, dalam kesempatan yang sama menawarkan konsep
dibentuknya lembaga pengawas penggunaan dana otsus. Lembaga itu bersifat ad
hoc dan berfungsi
mengevaluasi, mengawasi dan mensupervisi penggunaan dana otsus tersebut.
Menurut
magister ilmu pemerintahan itu, sudah saatnya dana otsus dikawal oleh lembaga
idependen namun mempunyai kewenangan yang besar. Sebab uang yang diberikan oleh
Jakarta sampai dengan tahun 2027 tersebut bukanlah dana abadi. Jumlahnya juga
terbatas. Hanya berjumlah Rp150 triliun selama 20 tahun.
“Waktu tidak
lama lagi. Pasca Otsus Aceh akan kebingungan. Untuk itu perlu segera dibentuk
lembaga ad hoc yang berfungsi mengawal dana ini,”
Terang Aryos.
Ketua KNPI
Aceh, Jamaluddin, ST dalam sambutannya mengatakan bahwa diskusi yang
diselenggarakan pihaknya adalah sebagai upaya untuk melihat lebih jauh terkait
persoalan pengelolaan dana otsus di Aceh.
“Seperti kita
ketahui bersama bahwa pasca rehab rekon yang menghabiskan anggaran (APBN)
mencapai 72 triliun, anggaran lain yang dikelola oleh Aceh adalah otsus.
Diberikan oleh Jakarta selama 20 tahun. Kalau gagal dikelola, ke depan Aceh
akan menghadapi persoalan yang cukup serius,” Kata Jamal.
Diskusi yang
dipandu oleh Muhajir Juli dari The Globe Journal itu menghadirkan empat
pembicara, termasuk Jamaluddin dan Chairul Fahmi dari Aceh Institute. Peserta
diskusi dari berbagai elemen sipil, termasuk mahasiswa dan perwakilan pemerintah.
[http://atjehpost.co/]

0 komentar:
Posting Komentar