![]() |
KNPIACEH.org | Peringatan 17
Agustus acap kali dijadikan sebagai seremonial semata. Padahal di banyak tempat
ditemukan, nilai-nilai nasionalisme masyarakat mengalamid egradasi. Ketua
Departemen Politik dan Keamanan DPD KNPI Aceh, Aryos Nivada berharap, harusnya
jiwa nasionalisme pemuda Aceh perlu dibangkitkan berkaitan dengan momentum
peringatan 17 Agustus 2014 ini.
“17 Agutus itu bukan hanya seremoni, tapi harus
memahami makna dan nilai yang terkandung di hari kemerdekaan. Pemuda harus
mampu membangkitkan jiwa nasionalisme yang harus diakui kian luntur,” ujarnya
menjawab The Globe Journal, Jum’at (15/8/2014).
Diakuinya, peningkatan kualitas nasionalisme terhadang kondisi social dan
perekonomian pemuda. Di Aceh misalnya, kalangan pemuda masih berhadapan dengan
masalah-masalah social yang berujung pada aksi-aksi criminal. Tidak hanya itu,
para pemuda juga terkungkungi dengan lingkaran pengangguran sehingga
mengakibatkan munculnya krisis nasionalisme.
Pun demikian, aktifis ini juga tak ingin membenarkan alasan-alasan
tersebut. Para pemuda sendiri mestinya lebih atraktif dalam mengatasi persoalan
tersebut. Apalagi diyakini Aryos, pemuda Aceh bukanlah tipikal masyarakat yang
terlalu menggantungkan diri pada sesuatu hal.
“Ada banyak hal yang bisa dilakukan sesuai dengan keahlian masing-masing,”
katanya yakin.
Di lain hal dia berharap, Pemerintah Aceh dapat mensupport para pemuda
untuk menghadapi persoalan-persoalan dasarnya. Konon lagi pada 2015 nanti,
Indonesia akan dihadapkan dengan peluncuran ASEAN Economic Community. Momentum
ini akan menciptakan persaingan bebas yang cukup besar hingga di Tanah Rencong.
Dia khawatir, ketidakmampuan Pemerintah dalam memfasilitasi potensi pemuda
Aceh bisa menimbulkan kesenjangan social yang dapat mengganggu kesinambungan
perdamaian di Aceh.
“Harus ada konsep pengembangan kreatifitas pemuda sehingga bisa terlibat
aktif dalam persaingan global. Ada banyak strategi dan pendekatan yang bisa
diterapkan,” tandas alumni UGM ini. [theglobejournal.com]

0 komentar:
Posting Komentar