Jamaluddin "Si Penjual Es Lilen"

Jamaluddin, ST
“Saya beruntung lahir dari keluarga sederhana sehingga pergulatan hidup sejak kecil menjadi  batu asah yang membuat saya berkesempatan untuk selalu menajamkan mata dan hati di dalam memahami dan meniti  kehidupan di negeri yang penuh dengan ragam pergulatan, Aceh.”  (Jamaluddin ST)


Si Penjual Es Lilen

Namanya sangat akrab di telinga. Jadi, mudah untuk di ingat. Jamaluddin, begitu lengkapnya. Atau, Jamal nama panggilannya. Dalam bahasa Arab Jamaluddin atau jamalu al din bermakna keindahan Islam. Sudah umum di Aceh pemberian nama disertai sebuah harapan atau doa, bahkan juga sebagai peunageu. 

Barangkali itulah mengapa Jamal selalu teringat pada pesan ayah-ibunya.  Jamal masih ingat ayahnya, H Muhammad Jamil, pernah berpesan agar ia jangan pernah meninggalkan shalat walau sesibuk apapun.  Sedangkan ibunya, Hajjah Aisyah, senantiasa mewanti-wanti agar Jamal menjadi aneuk yang  meutuah.
Sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara, Jamal memang tidak menempuh jalur pendidikan di sekolah agama. Dari masa kecil hingga masa muda Jamal menempuh jalur pendidikan formal di sekolah umum, dan berakhir di sekolah kejuruan usai menempuh sekolah dasar di SD Reubee (1982-1988). Selanjutnya, Jamal langsung memfokuskan diri di sekolah kejuruan. Berawal dari Sekolah Teknik di Sigli (1988-1991) lalu Jamal melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah (STM) di Banda Aceh (1991-1994). Terakhir, di Universitas Iskandar Muda, Jamal mempertajam ilmunya tentang teknik dengan memilih jurusan teknik sipil (1994-2004).

Meski berada di jalur pendidikan umum namun pendidikan agama senantiasa akrab dalam hidupnya. Kedua orangtuanya adalah sosok yang sangat peduli pada perkembangan anak-anaknya. Jadi, pendidikan agama di tempuhnya langsung  dari  kedua orangtuanya, anggota keluarga, juga di lingkungan kampungnya.
Adalah jiwa kemandiriannya  yang mungkin menjadi pembimbing ia menjadi sosok yang kini akrab dengan dunia swasta dalam kegiatan rancang bangun. Soalnya, jika dilacak jejak kemandiriannya sudah terlihat sejak SD. Di masa kecil Jamal adalah anak yang ikut menjual es lilen. Kegiatan itu dilakukan khususnya  sejak kelas 5-6 SD.  Sebelum ke sekolah ia mengantar es lilen ke kios-kios dan usai  sekolah baru mendatangi  kios-kios untuk mengutip uang es yang terjual. Jamal malah juga pernah  menggarap kebun jagung sendiri dan alhamdulillah hasil panennya bagus. Sebagai anak lelaki, Jamal juga sosok yang rajin membantu  orangtuanya. Di musim libur ia membantu orangtuanya di sawah.

Jiwa kemandiriannya juga makin terasah ketika bersekolah di Banda Aceh. Sejak kelas II STM, Jamal sudah aktif berkerja di dunia konsultan. Begitu pula usai tamat sekolah menengah. Jamal terus berkerja. Bahkan, usai kuliah Jamaluddin, ST sudah mendirikan perusahaan untuk mengasah kemandiriannya.
Jamal bukan hanya rajin dan mandiri tapi juga bergaul.  Seperti  umumnya anak-anak di kampungnya, Jamal juga suka  bermain bola. Jamal juga salah satu yang kerap bermain bola di klub delima muda.
Itulah jejak aneuk Reubee, Jamaluddin kecil, remaja dan dewasa. Di masa mudanya, Jamaluddin, ST, juga sosok yang akrab dengan dunia sosial kemasyarakatan bahkan politik. Semua ini sebagai wujud kepedulian dirinya, bukan hanya untuk menopang karirnya di dunia swasta, melainkan sebagai  komitmen dirinya sebagai aneuk Aceh.

Organisatoris Berjiwa Sosial

Bayangkan, di masa kuliah Jamal sudah dipercaya sebagai salah seorang pengurus di Forum Peduli HAM, sebuah lembaga yang bergerak di bidang advokasi dan kampanye HAM (1998-2004). Pada masa itu, tidak terlalu banyak anak-anak muda  yang mau berkecimpung dalam isu-isu yang sensitif. Tapi, atas dasar kesadaran pada pentingnya segera mengakhiri  konflik bersenjata  di Aceh, Jamal juga ikut ambil bagian dalam kerja-kerja  penangganan isu HAM, bersama rekan-rekan lainnya.

Masih di masa menjadi mahasiswa, Jamal juga menunjukkan kepedulian kepada kampung atau daerah kelahirannya, dan senantiasa menjalin silahturahmi rutin dengan warga gampongnya khususnya yang ada di Banda Aceh, apakah itu pelajar, mahasiswa, pemuda, pejabat atau anggota masyarakat biasa yang berasal dari Delima. Karena wajar jika kemudian ia dipilih menjadi Ketua Ikatan Pemuda dan Masyarakat Delima (IPEDALMA), sejak 1999-2005. Jiwa sosial kemasyarakatan saudara Jamal juga diaktualisasikan melalui LSM YADESA. Jamal dipercaya sebagai Ketua Divisi Pembangunan, 2003-2007
.
Jamaluddin, ST yang kini sudah dianugerahi dua orang putri, Dina Nabila Jamal dan Azka Salsa Jamal dari perkawinannya dengan Rita Herlina, Amd, juga aktif di organisasi konsultan. Pada tahun 2006 ia terpilih menjadi wakil sekretaris DPP Inkindo Aceh. Kepercayaan meningkat, pada tahun 2010 Jamal dipercaya sebagai sekretaris, hingga 2014.

Sementara di dunia organisasi kepemudaan Jamaluddin, ST juga aktif di AMPI dan MKGR. Di kedua lembaga kepemudaan ini ia berada di posisi sebagai bendahara untuk periode 2010-2015. Sedangkan di Ormas GEMA MKGR Jamal dipercaya sebagai Ketua DPD I GEMA MKGR untuk periode 2012-2015
.
Pergaulan dan Kepercayaan

Jika ada yang berkata pergaulan dapat mendatangkan ragam kepercayaan maka itu terlihat benar adanya di diri Jamaluddin.  Kombinasi pergaulan, kepedulian, dan kecerdasan akhirnya Jamaluddin juga mendapat kepercayaan untuk menjadi Bendahara di Forum Koordinasi Pencegahan Teroris (FKPT) Aceh untuk periode 2012-2016. Jamal juga tercatat sebagai salah satu anggota tim Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh,   2013-2018. Jamal juga dipercayakan sebagai salah seorang Wakil Sekretaris  di DPD II KNPI Pidie periode 2013-2016.

Terakhir, Jamaluddin, ST yang kini berusia 40 btahun, dipercayakan sebagai pemegang kendali DPD KNPI Aceh, periode 2013-2016.

Perpaduan keberhasilan di sisi kemandirian dan pergaulan dengan semua pihak dan kalangan mengantar Jamaluddin untuk lebih mempertajam sisi pengabdiannya kepada masyarakat khususnya untuk kalangan muda. Baginya, pengalaman panjang dirinya membangun kemandirian sangat bermanfaat jika dibagi kepada kalangan muda. Jamal membayangkan, jika kalangan muda Aceh dapat merintis kemandirian dan pada saat yang sama juga memiliki keluasan dalam pergaulan tentu saja akan sangat membantu kaum muda di Aceh dalam berkiprah di dunianya. Jamal percaya, peran pemuda Aceh bisa dikembalikan ke posisi yang diperhitungkan semua pihak. Itulah mengapa aneuk Reubee ini ingin terus mengabdi karena pengabdian baginya bukanlah jalan yang berujung pada batas melainkan selalu kembali pada niat untuk berbuat kebajikan. ***
Share on Google Plus

About KNPI ACEH

Dikelola oleh Staf Sekretariat DPD KNPI Aceh | Alamat : Jl. T Hasan Dek No.166 Jambo Tape Banda Aceh | Email : dpdknpiaceh@gmail.com

0 komentar:

Posting Komentar