Oleh H. Jamaluddin, ST [Ketua DPD I KNPI Aceh, melaporkan dari Selangor, Malaysia]
KOMITE Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh mendapat undangan dari Muda Belia Selangor (MBS), Malaysia. Lembaga ini mirip KNPI kalau di Indonesia. Undangan tersebut untuk menghadiri acara Perhimpunan Agung Tahunan Ke-32 MBS. Kira-kira seperti musyawarah daerah (musda)-lah kalau di tempat kita. Acaranya di Intekma Resort dan Convention Centre, Selangor.
Perhimpunan Agung Tahunan Ke-32 ini dibuka Timbalan Perdana Menteri Malaysia, YAB Dato Seri Dr Ahmad Zahid bin Hamidi. Acaranya dipadu dengan peluncuran buku, penandatanganan MoU antara KNPI Aceh dengan MBS yang disaksikan Wakil PM Malasyia.
Dalam sambutannya, Timbalan PM Malaysia itu menyinggung soal lapangan kerja yang sebagian besar mesti dikerjakan pihak asing. Di antaranya pekerjaan bidang jasa konstruksi, perkebunan, pembantu rumah tangga, bahkan pekerja kilang. Timbalan PM juga mengajak pemuda agar terus memikirkan bagaimana mengefektifkan tenaga asing di Malasyia.
Ia juga sangat mengapresiasi MoU antara MBS dengan KNPI Aceh dan berpesan supaya hubungan ini terus ditingkatkan, mengingat antara Aceh dan Malaysia serumpun, serta ada banyak hal yang bisa dikerjakan bersama berdasarkan MoU tersebut.
Seusai acara pembukaan, MC memanggil Ketua KNPI Aceh naik ke panggung guna bertukar cendera mata dengan Timbalan PM. Saat itu kami serahkan kupiah dan rencong Aceh, serta plakat KNPI Aceh. Beliau memberikan kepada kami cendera mata uang koin ringgit Malasyia sambil mengucap, “Ini adat Malasyia, setiap ada kita terima rencong harus diberikan uang.”
Setelah prosesi pembukaan selesai, kami makan siang bersama. Kemudian acara Perhimpunan Agung dilanjutkan sampai selesai dan semua jabatan dalam struktur MBS pun terisi penuh.
Berikutnya kami dijamu makan malam di Restoran D’Corad, tepi Kali Selangor. Seusai makan dengan menu utama tom yam, panitia mengajak rombongan KNPI Aceh (terdiri atas saya, Muzakir Abdullah, Ismet Tanjong, Marini, para wakil ketua, dan Husnon) untuk melihat objek wisata malam hari di pinggir Sungai Selangor. Objek wisata malam ini mereka sebut “kelap-kelip”. Begitu mendengar namanya, kami dari Aceh langsung semangat ingin melihat.
Di samping restoran tempat kami makan memang ada pelabuhan pendaratan ikan. Di situ adalah pelabuhan penumpang dan beberapa boat kecil yang siap membawa penumpang melihat objek wisata kelap-kelip. Sebelum naik boat, pemandu memberi kami baju pelampung untuk dipakai, barulah dipersilakan naik ke boat berkapasitas 20 penumpang itu.
Boat berangkat menyusuri pinggiran Sungai Selangor yang saat kami lewati kondisi airnya keruh, karena sedang musim hujan. Saat boat berjalan lebih dari 15 menit, kami belum melihat apa-apa. Hanya kegelapan malam dan ada satu dua lampu yang tampak dari jauh.
Lebih kurang 20 menit boat berjalan, nakhoda mematikan mesin boat sambil merapatkan boat ke pinggiran sungai yang ada pepohonannya.
Kemudian, nakhoda meminta penumpang untuk melihat pepohonan tadi yang di dedaunannya banyak sekali cahaya kelap-kelip. Inilah yang hendak disajikan kepada para tamu. Cahaya kelap-kelip itu ternyata adalah kunang-kunang yang hinggap di daun! Dalam bahasa Aceh inilah yang namanya meuk atau bahasa Inggrisnya firefly. Kami pun saling berbisik karena rada-rada lucu. “Kok ini ya yang mereka tampakkan kepada kita?” ujar seorang teman. Lalu kami tertawa.
Setelah 30 menit kami nikmati wisata kelap-kelip ala Malaysia itu, boat pun bergerak perlahan sekira seratus meter. Guide menyuruh kami melihat ke pepohonan yang lain. Terlihat makhluk berwarna putih bergantung di pepohonan. Setelah kami amati saksama, ternyata yang bergantungan itu adalah burung bangau putih (kuntul), dalam bahasa Aceh disebut ku’ek atau bahasa Inggrisnya, eagle feeding.
Setelah 25 menit kami lihat ku’ek eh (bangau tidur) kemudian guide menghidupkan mesin diesel boatnya. Kemudian kami kembali ke pelabuhan. Selesailah sajian parawisata meuk dan ku’ek eh (kunang-kunang dan bangau tidur). Inilah salah sajian wisata alam yang ditawarkan negeri jiran Malasyia kepada tamu yang datang dari berbagai negara. Paket wisata ini diberi nama Kuala Selangor River Cruise. Setiap tamu yang masuk bayar RM18 untuk dewasa dan RM15 untuk anak-anak dengan waktu masuk mulai jam 7.30 pm/10.00 pm.
Esoknya kami pamit kepada panitia untuk meninggalkan Kuala Lumpur dan melanjutkan perjalanan ke Bangkok, Thailand. Di Bangkok ada beberapa tempat yang kami tuju. Pertama, Anfrel (Asia Network for Free Elections), TVS (Thai Vokutree Service), Kedutaan Besar RI di Bangkok, dan kawasan pertanian. Namun, ke kawasan perkebunan kami tak sempat, karena waktu terbatas. Demikianlah reportase kami. []
NB: Tulisan ini telah dipublikasi di Harian Serambi Indonesia, Sabtu (20/02/2016) dengan Judul: Kunang-kunangpun Jadi Objek Wisata

0 komentar:
Posting Komentar