KNPIACEH.org | Komite Nasional Pemuda Indonesia
(KNPI) Aceh sebagai lembaga berhimpun organisasi kepemudaan (OKP) termasuk juga Hipmi Aceh di dalamnya, angkat bicara mengenai pelaksanaan
Musda organisasi para pengusaha muda tersebut.
Ketua KNPI Aceh, Jamaluddin ST, menilai pelaksanaan Musda
Hipmi seperti
sebuah sandiwara. “Ini memalukan, konyol sekali, belum tampak demokrasinya,
belum tampak pembinaannya. Kita minta jangan ada lagi sandiwara Musda di Aceh,”
kata Jamaluddin kepada Serambi, Minggu (16/11) siang.
Dijelaskan, dalam menjalankan sebuah organisasi tentu
sudah ada petunjuk organisasi, sudah ada anggaran dasar dan anggaran rumah
tangga (AD/ART). “Aturan itu jangan sesekali dikurangi atau ditambah, kalau
tidak ingin dicap sebagai penghancur organisasi,” ujarnya.
Di OKP manapun, lanjut dia, pembiayaan Musda ditanggung
oleh pengurus berjalan, bukan calon ketua. Karena itu, apa yang terjadi di Hipmi Aceh,
menurutnya, hanya akan menjadi bahan tertawaan orang. “Publik pasti bertanya ada
apa di Hipmi Aceh. Kita
juga ingin mempertanyakan kredibilitas panitia Musda Hipmi,” tambanya.
Mantan pengurus Hipmi DKI
Jakarta, Samsul B Ibrahim, menambahkan, hal-hal seperti inilah yang menjadikan Hipmi Aceh tidak
menarik.
Hipmi itu
dikatakannya adalah organisasi kader. Justru Hipmi diwajibkan menciptakan pengusaha muda sebanyak-banyaknya,
dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anggota untuk maju sebagai
ketua.
“Kewajiban menyetor uang administrasi itu tidak ada dalam
AD/ART. Berilah kesempatan seluas-seluasnya kepada pengusaha muda Aceh untuk
maju secara fair dan sehat. Membangun ekonomi Aceh itu perlu kebersamaan,”
imbuh Samsul. [Serambinews.com]

0 komentar:
Posting Komentar